PENGARUH CAMPURAN MINYAK TANAH DAN MINYAK JELANTAH DENGAN BERBAGAI PERSENTASE CAMPURAN PADA PROSES PEMBAKARAN
ABSTRAK
Sampai saat ini di Indonesia dalam pemanfaatan minyak nabati khususnya minyak jelantah belum maksimal khususnya dari industriindustri pangan yang besar, dan kemudian dijual ke pedagang kaki lima yang kemudian disaring dan digunakan untuk menggoreng makanan dagangannya lagi. Sedangkan minyak jelantah sisa rumah tangga dan sisa dari pedagang kecil hanya dibuang begitu saja ke saluran pembuangan.
Bahan bakar nabati yang diperoleh dari hasil sisa penggorengan atau disebut minyak jelantah dapat digunakan dalam keadaan murni atau dicampur dengan minyak tanah. Dan dilakukan dengan prosentase campuran 100MT:0MJ, 60MT:40MJ, 50MT:50MT dan 40MT:60MJ. Yang diuji dengan menggunakan kompor minyak gas. Dan dicari suhu, konsumsi bahan bakar. Kemudian pengujian secara kimia berupa specific gravity, flash point, viskosity kinematic dan water content
Dari hasil penelitian terhadap biokerosine yang diproses dari pencampuran minyak jelantah dapat diketahui untuk perbandingan 100MT:0MJ didapatkan suhu tertinggi 559,52°C, 60MT:40MJ didapatkan suhu tertinggi 543,73°C, 50MT:50MT didapatkan suhu tertinggi 541,63°C, 40MT:60MJ didapatkan suhu tertinggi 538,47°C. Untuk berat konsumsi bahan bakar untuk mendidihkan 1,5 liter air perbandingan 100MT:0MJ (0,2kg), 60MT:40MJ (0,25kg), 50MT:50MT (0,27kg) dan 40MT:60MJ (0,30kg). Untuk kualitas api perbandingan 100MT:0MJ stabil, 60MT:40MJ stabil, 50MT:50MT tidak stabil dan 40MT:60Mjtidak stabil.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain